Minggu, 05 Juli 2009

Hanya untuk orang gila

By Ippho Santosa

Siang itu, di sela-sela sebuah acara di Denpasar saya ngobrol dengan Purdi Chandra dan Mr. Joger, dua pengusaha yang terkenal humoris. Mr. Joger sempat bercerita bahwa dia tidak pernah sekalipun merasa sedih. Dia selalu gembira, antusias dan berpikir positif. Ternyata, konsep duka memang tidak ada dalam benaknya. Terus, dia bertutur tentang Purdi Chandra yang hampir selalu berhasil dalam bisnis-bisnisnya. Rupa-rupanya, Purdi Chandra memang tidak pernah memasukkan konsep gagal ke dalam pikirannya. Mirip-mirip dengan orang gila. Hush, jangan sembarangan! Lha, saya serius! Apa pernah orang gila jatuh sakit? Jarang-jarang 'kan? Itu karena konsep sakit tidak pernah ada di benak orang gila.

Tengok pula anak kecil. Sebenarnya sih konsep takut tidak pernah terlintas di kepalanya. Namun sayangnya, acapkali orangtuanyalah yang memperkenalkan dan menjejalkan konsep takut kepadanya, Kalau kamu nakal, ntar digigit anjing lho! atau, Kalau kamu nggak mau makan, bakal didatangin kuntilanak lho! Akhirnya, si anak jadi merinding beneran. Konsep takut pun menyelinap dan bersemayam di otaknya. Kesimpulannya, hati-hati dengan pikiran Anda. Pilah dan pilih konsep yang patut bercokol di sana.


Tayangan di televisi, majalah dan suratkabar acap kali mencekoki otak Anda dengan hal-hal yang negatif. Dan repotnya lagi, sering kali Anda tidak menyadarinya. Pst, kalau sudah begitu, siapa yang rugi? Yah, Anda sendiri! Si pembuat acara mana mungkin rugi! Rating acara meroket. Iklan-iklan pun berdesakan. Saldo mereka pun melambung. Kembali pada orang gila. Hei, Penulis! Nggak salah nih? Kita yang waras gini malah ngomongin orang gila!”

Yah, mana mungkin orang gila yang ngomongin kita? Hahaha, saya bercanda. Bagi saya, orang-orang yang luar biasa adalah orang-orang yang sedikit gila. Tentu saja, bukan dalam pengertian sakit jiwa. Tetapi maksudnya, tidak jarang mereka berpikir, berkhayal dan bermimpi secara tidak rasional. Pokoknya, rada ngawur, rada ngelantur. Sehingga lingkungan di sekitarnya tanpa tedeng aling-aling menuding, Ah, dasar gila! Mana mungkin itu terjadi! Toh, pada akhirnya itu terjadi juga.

Tidak perlu contoh. Anda pasti sudah sering menyaksikannya dalam kehidupan sehari-hari. Menurut saya, untuk menjadi orang yang luar biasa, lakukanlah apa yang tidak dilakukan oleh orang biasa. Orang biasa menghabiskan waktunya 2-3 jam sehari untuk
menonton sinetron. Orang biasa menghabiskan Sabtu-Minggu-nya untuk bermalas-malasan. Orang biasa menghabiskan waktu, uang dan kartu kreditnya di pusat-pusat perbelanjaan.

Ketahuilah, orang luar biasa tidak pernah melakukan semua itu. Dan ketika Anda coba meniru orang luar biasa, saya jamin Anda akan dicap 'gila' oleh orang biasa. Tidak percaya? Lakoni saja! Bulan lalu saya bertemu dengan Helmi Yahya, biangnya Reality Show di tanah air. Ketika ia berkisah tentang betapa workaholic-nya dia semenjak kecil, saya langsung bergumam dalam hati, Dia telah membayar harganya dan dia pantas memperoleh ganjarannya. Lihat pula Aa Gym, pendakwah sekaligus pengusaha. Saya menyaksikan sendiri bagaimana ia memanfaatkan waktunya menit demi menit secara optimal. Dan kita semua maklum apa yang telah ia capai.

Akhirnya, maafkan saya apabila tulisan saya kali ini sedikit semrawut. Tulisan ini memang dibikin se-spontan mungkin, se-instan mungkin. Lagi pula, tulisan ini memang hanya untuk orang keblinger kok. Hei, jangan tersinggung. Tetapi yang penting, Anda pilih yang mana? Menjadi orang biasa atau orang luar biasa? Setidak-tidaknya, sebelum menjadi orang luar biasa, Anda sudah menjadi orang biasa di luar 'kan? Hahaha, saya bergurau. Sekali lagi, jadilah orang yang luar biasa! Meskipun untuk itu, Anda kudu merelakan diri untuk dilabel 'gila' oleh orang-orang di sekitar Anda. Percayalah, sebenarnya gelar 'gila' tersebut merupakan luapan kekaguman alias pujian dari mereka.

Taken from : Pitoyo dotcom


Tidak ada komentar:

Poskan Komentar