Kamis, 26 Maret 2009

PAWAI OGOH - OGOH DI LOMBOK

Seiring dengan perkembangan teknologi dan komunikasi, di mana pelaksanaan pangerupakan di Bali yang menampilkan ciri khas pawai ogoh-ogoh kemudian disebarluaskan melalui media cetak dan elektronik. Pawai ogoh-ogoh yang dijadikan sebagai salah satu event wisata di Bali, diikuti oleh pemuda Hindu di daerah-daerah lain, termasuk yang ada di Lombok.

Pada awalnya, jumlah banjar atau lingkungan yang membuat ogoh-ogoh hanya dua sampai tiga banjar. Dalam perkembangan berikutnya, banjar-banjar lainnya tidak mau ketinggalan. Bahkan, kini hampir seluruh banjar di Lombok khususnya yang berada di wilayah Kota Mataram ikut berpartisipasi membuat ogoh-ogoh.

Semangat para pemuda makin terpacu menampilkan kreasi seninya. Apalagi ogoh-ogoh dilombakan, maka makin semangat pemuda untuk berkreasi seni. Masing-masing banjar berusaha menampilkan kreasi terbaiknya, walaupun banyak dana yang diperlukan untuk pembuatan ogoh-ogoh. Terkait dengan sumber pendanaan, pemuda Hindu di Lombok umumnya turun langsung mendatangi warga banjar untuk meminta sumbangan dalam bentuk dana punia.

Ketua PHDI NTB I Gde Mandia, S.H. mengatakan, warga yang menyumbang untuk pembuatan ogoh-ogoh tidak hanya dari kalangan umat Hindu. Di beberapa banjar di Mataram, dana pembuatan ogoh-ogoh juga disumbangkan oleh umat non-Hindu yang kebetulan bermukim di sekitar banjar. Kepedulian umat non-Hindu tersebut merupakan wujud partisipasi untuk mendukung kreativitas pemuda di banjar tersebut.

Dikatakannya, warga non-Hindu yang ikut berpartisipasi tidak hanya terbatas menyumbang dana. ''Ketika warga membawa ogoh-ogoh dari banjar ke lokasi upacara pangerupukan, mereka juga ikut menggotongnya,'' jelas Mandia. Ditambahkan, wujud lain dari partisipasi umat non-Hindu dalam memeriahkan upacara pangerupukan, yakni ditampilkannya kesenian gendang beleq serta kesenian barongsai.
Menurut Mandia, partisipasi ini merupakan wujud kebersamaan dan rasa toleransi antarumat beragama yang ada di Lombok. Diharapkan wujud kebersamaan dan toleransi ini harus terus dipelihara untuk menciptakan kerukunan dan kedamaian di daerah ini.

Senada dikatakan tokoh umat Hindu di Lombok, Drs. Made Metu Dahana. Ia berharap agar toleransi antarumat beragama di daerah ini tetap terjalin dan terpelihara dengan baik. ''Ini merupakan wujud kerukunan yang diekspresikan saat pawai ogoh-ogoh. Umat non-Hindu hanya mengikuti pawai budayanya, namun tidak untuk kegiatan ritualnya,'' kata Made Metu Dahana.

Sumber : balipost

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar