Minggu, 19 April 2009

KENAPA KARYAWAN JARANG MENJADI KAYA ?

Pertanyaan seperti diatas sering tembul dalam benak kita, malah tak sedikit yang bernada pesimis dengan menyebut kata "NASIB' atau hanya sekedar ungkapan penghibur diri yang belum menemukan jalan keluar untuk mengatasinnya. Memang didalam kehidupan 'pekerja' terutama bagi pekerja golongan menengah kebawah, untaian kata "nasib" dan pasrah menerima kenyataan hidup sebagai "buruh kasar" atau lebih tepatnya disebut sebagai 'kuli' adalah bagian tak terpisahkan bagi kehidupan nyata. Tak harus ada penyesalan bagi kenyataan ini, tetapi mengapa harus berlama-lama dalam kenyataan ini bila hendak menemukan pencerahan sebagaimana yang telah dirasakan sebagian kecil oleh sesama kita.

Nampaknya perubahan hidup yang diinginkan, entah menitipkannya lewat caleg yang sedang berkampanye atau menyuarakan lewat serikat pekerja yang dipercayakan, namun hal yang diperoleh atas dinamika tersebut tidaklah membuahkan hasil sebagaimana yang diharapkan. Betapa banyak faktor yang dapat mempertahankan kondisi sulit tersebut, diantaranya :
Membelanjakan uang yang belum diperoleh yaitu kebanyakan membebankan gaji terhadap barang kreditan yang bersifat komsumtif seperti membayar cicilan kendaraan, perabotan, rumah, dan pinjaman berbunga entah dari bank, koperasi, sampai dengan rentenir.
Terlalu diperdaya oleh 'dikotomi negatif', yaitu apabila kita sudah bekerja maka kita wajib bekerja dengan baik, patuh terhadap perintah atasan, dan loyal terhadap aturan-aturan yang telah ditetapakan, tanpa pernah melihat dari berbagai sudut pandang seperti perintah yang harus dipatuhi tujuannya untuk apa, kenapa, dan lain-lain. Sebab dalam dimensi ril, terutama berlaku dilingkungan elemen paling bawah, kebanyakan kebijakan-yang dibuat tidak lebih hanya sebagai penopang karier atasan saja tanpa pernah memberi limpahan kebaikan atas kebijakan pada bawahan yang menjadi ujung tombak keberhasilan usaha.
Terlalu larut pada mitos 'menunggu kenaikan gaji/pangkat' sehingga waktu berlalu begitu saja dan ikut hanyut bersama waktu semu tersebut.
Terlilit oleh budaya nepotisme yang kuat, kebanyakan dari kita tidak banyak bisa diperbuat kerena adanya tekanan omosional akibat harus berbalas bakti. Hal seperti ini terjadi karena harus menjaga citra dan nama baik kolega yang menjadi sponsor diterimanya bekerja pada suatu perusahaan.
Harapan besar tanpa disertai upaya sesuai kemampuan dan kebutuhan lingkungan kerjanya. Pada umumnya terjadi hanya karena semua diserahkan begitu saja tanpa ada upaya untuk meningkatkan kemampuan personalnya. Hanya menunggu, menunggu, dan menunggu tanpa ada usaha sebagai tindak lanjut mendukung lahirnya upaya perbaikan kearah yang lebih baik.

Hal-hal seperti diatas telah berlangsung dari generasi kegenarasi, bahkan telah terjadi lintas zaman, dan tak banyak yang dapat dikerjakan untuk melakukan suatu perubahan. Karena selama ini kita tidak seperti tenaga kerja dinegara lain, dimana pemerintahnya tak henti melakukan berbagai terobosan untuk berupaya mengatasi permasalahan klasik tersebut. Tindakan nyata lebih bersifat politis daripada aspiratif. Suatu permasalahan mendapat perhatian apabila sudah terjadi aksi yang lebih ekstrim. Bahkan tak sedikit diselesaikan dengan menjerat tokoh-tokonya dengan pasal anakis tanpa menengok kebelakan apa yang menjadi penyebab terjadinya hal tersebut. Seperti tak ada lembaga yang dapat dijadikan sandaran vertikal untuk urusan ini. Kalaupun ada, lebih banyak tenggelam oleh sistim birokrasi yang cukup pelik. Ujung-ujungnya pekerja itu harus menanggung kanyataan pahit itu sendiri.

Pemikiran seperti diatas tidak dimaksudkan untuk menyalahkan siapa-siapa. Namun lebih diarahkan untuk meletakkan kenyataan sebagaimana adanya. Tak ada artinya seminar, janji kampanye akan sia-sia seiring kalahnya caleg bersangkutan. Hanya satu jalan untuk keluar dari masalah ini adalah kita selaku pekerja yang terlibat langsung dari berbagai dimensi, harus melakukan suatu hal seperti meningkatkan keterampilan profesi, personal maupun keterampilan sosial. Mari berbuat dengan banyak belajar atas berbagai kenyataan. Bangkitkan semangat juang, ciptakan berbagai sumber penghasilan untuk menopan kehidupan. Ajarkan kepada orang-orang terdekat bagaimana mempergunakan uang sebagai alat bantu. Jangan jadika uang sebagai tujuan karena bila hal itu terjadi maka hanya akan melilit kehidupan dan tak akan pernah melepaskan keluar dari lingkaran kemiskinan.

Untuk itulah gunanya berbicara mengapa pekerja tidak ada yang menjadi kaya. Karena bila tidak diingat, malah akan berlangsung seiring waktu. Apabila anda sebagai pekerja dan setuju atas pandangan tersebut diatas, mulai sekarang sebaiknya pertimbangkan kembali keputusan anda. Apakah anda bekerja sudah sesuai dengan tujuang hidup anda. Atau anda bekerja sesuai dengan pilihan sendiri atau apakah anda bekerja hanya karena terdesak atau tidak ada pilihan lain. Jika hal terakhir ini yang mendasari anda bekerja, sebaiknya mulai berpikir untuk memulai dengan yang baru, Ambil slogan pertamina di SPBU "mulai dari nol" demi perbaikan taraf hidup anda dimasa datang. Mulailah dengan belajar membangun bisnis, pelajari cara memulainya dan bisakan berpikir bisnis, jangan berpikir konsumtif. Ciptakan kehidupan masa depan dengan mengoleksi berbagai maca asuransi. Tetapkan tujuan hidup dengan membangun sumber penghsilan fasif, yaitu penghasilan yang akan memberi masukan berupa manfaat walau tanpa keterlibatan secara langsung dan walau sudah tidak bekerja lagi. (21Duabelas)


Tidak ada komentar:

Poskan Komentar